Perkembangan Ekonomi Dan Bisnis Di Indonesia


Perkembangan Ekonomi Dan Bisnis Di Indonesia

Indonesia adalah negara yang berpotensi tinggi dalam pengembangan ekonomi dan bisnis ; potensi yang mulai diperhatikan oleh dunia internasional. Indonesia adalah ekonomi terbesar di Asia Tenggara yang memiliki beberapa karakteristik yang menempatkan negara dalam posisi yang bagus untuk melakukan perkembangan ekonomi yang sangat pesat. Dalam beberapa tahun terakhir hadir dukungan kuat dari pemerintah pusat untuk mengekang ketergantungan Indonesia pada ekspor komoditas (mentah), sekaligus meningkatkan peran industri manufaktur dalam perekonomian. Pembangunan infrastruktur juga adalah tujuan utama pemerintah dalam mengembangkan perekonomian dan bisnis di Indonesia.
Indonesia sebagai kandidat yang tepat untuk dimasukkan ke dalam kelompok negara BRIC (Brazil, Rusia, India dan China). Kelompok lain yang sering disebutkan sebelumnya - yang tergabung dalam akronim CIVETS (yaitu Colombia, Indonesia, Vietnam, Mesir, Turki dan Afrika Selatan) - juga mendapat perhatian karena anggotanya memiliki sistem keuangan yang cukup canggih dan populasi yang tumbuh cepat.

Pertumbuhan ekonomi yang tangguh, utang pemerintah yang rendah dan manajemen fiskal yang bijaksana dijadikan alasan untuk kenaikan penilaian tersebut. Masuknya arus modal keuangan berupa dana asing ke Indonesia seperti aliran portofolio maupun investasi asing langsung (foreign direct investment, FDI) yang meningkat secara signifikan. Arus masuk FDI ini, yang sebelumnya relatif lemah selama satu dasawarsa setelah Krisis Keuangan Asia, Hal ini menunjukkan peningkatan yang tajam setelah krisis keuangan global pada 2008-2009.

Meski pemerintah Indonesia ingin mengurangi ketergantungan tradisional pada ekspor komoditas mentah dan meningkatkan peran industri manufaktur (misalnya melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara), itu adalah jalan yang sulit terutama karena sektor swasta masih tetap ragu-ragu untuk berinvestasi. Terjadinya penurunan harga komoditas setelah tahun 2011 sebagian besar disebabkan melemahnya pertumbuhan ekonomi Cina telah berdampak drastis pada Indonesia. Proses Ekspor di Indonesia melemah secara signifikan, menyiratkan penerimaan devisa yang lebih sedikit dan daya beli masyarakat jadi berkurang, sehingga menyebabkan perlambatan ekonomi.

Indonesia adalah ekonomi pasar di mana perusahaan milik negara (BUMN) dan kelompok usaha swasta besar (konglomerat) memainkan peran penting. Ada ratusan kelompok swasta yang terdiversifikasi yang berbisnis di Indonesia (namun mereka merupakan sebagian kecil dari jumlah total perusahaan yang aktif di Indonesia). Bersama dengan para BUMN mereka mendominasi perekonomian domestik.

Usaha milik perorangan, usaha kecil dan usaha menengah di Indonesia, yang bersama-sama berkontribusi 99 persen dari jumlah total perusahaan yang aktif di Indonesia, tidak kalah pentingnya. Mereka menyumbang sekitar 60 persen dari PDB Indonesia dan menciptakan lapangan kerja untuk hampir 108 juta orang Indonesia. Ini berarti bahwa usaha milik perorangan, usaha kecil dan usaha menengah adalah tulang punggung perekonomian Indonesia.

Terdapat beberapa tanda bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia mulai mempercepat lagi setelah perlambatan ekonomi di tahun 2011-2015. Oleh sebab itu, kita mungkin berada pada awal dari sebuah masa yang diciri khas kan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Tetapi ada hal yang harus digaris bawahi bahwa Indonesia adalah negara yang kompleks dan berisi risiko tertentu untuk investasi. Lagipula, dinamika dan konteks negara ini ikut membawa risiko. Untuk menyadari risiko yang terlibat kami menyarankan Anda untuk membaca bagian Risiko Investasi di Indonesia dan melacak perkembangan ekonomi, politik dan sosial terbaru di Indonesia melalui bagian Berita, bagian Bisnis dan bagian Keuangan.

Bagian Ekonomi ini menyajikan paparan keadaan ekonomi Indonesia saat ini serta membahas sejumlah bab penting dalam sejarah ekonomi Indonesia.


Komentar